TEMPO.CO, Jakarta- Peneliti Indo Barometer M. Qodari menilai kasus Wisma Atlet yang terus-terusan menyeret nama sejumlah petinggi Partai Demokrat bisa kembali menguatkan wacana Kongres Luar Biasa di Partai Demokrat untuk mendongkel posisi Ketua Umum Anas Urbaningrum. "KLB bisa terjadi karena tiga hal, salah satunya usulan Majelis Tinggi Partai Demokrat," ujarnya dalam diskusi dengan tema "Demokrat Terguncang", di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu 28 Januari 2012.
Menurut Qodari, saat ini komposisi anggota Majelis Tinggi didominasi oleh orang-orang dekat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Majelis Tinggi beranggotakan sembilan orang yaitu Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY, Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie, Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng, dan Ketua Umum Anas Urbaningrum.
Selain itu, ada Wakil Ketua Umum Max Sopacua, Wakil Ketua Umum Jhonny Allen, Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono, Direktur Eksekutif Partai Demokrat Toto Riyanto, dan Bendahara Umum M Nazaruddin. "Bicara Majelis Tinggi, orang SBY lebih dominan sekitar 70 persen, sisanya orang dekat Anas," ujarnya.
Qodari menganggap KLB kemungkinan bisa terjadi mengingat konflik sisa kompetisi pascakongres tahun 2010 lalu masih ada. Ini ditengarai dengan seringnya beberapa jajaran petinggi partai berlambang mercy itu saling menyerang satu sama lain. "Sudah ada pernyataan tokoh bahwa residu itu bukan biasa. Tapi residu mesiu, yang bisa meledak," kata dia.
Namun di sisi lain, wacana KLB juga harus berasal atau disampaikan dari kader yang berada di bawah. Untuk cara yang satu ini tidak memungkinkan karena sebagian besar kepengurusan baru di daerah didominasi kader-kader yang dekat dengan Anas. "Dari bawah (DPD/DPC) itu sulit, mayoritas timnya dari Anas," kata Qodari tersenyum.
Ia menambahkan, "Mungkin ujungnya Demokrat ini menunggu keputusan dari KPK. Meskipun dengan menunggu, Demokrat akan terus babak belur," ujarnya.
MUNAWWAROH